Perekonomian Global Masih Melambat

Waspada Pertumbuhan Ekonomi Kita Terganggu

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. (Foto: Antara)
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka – Perekonomian global tahun ini masih mengindikasikan ketidakpastian. Kondisi itu harus diantisipasi, karena khawatir berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia yang sedang tumbuh positif sejak 2022.    

Bank Dunia memprediksi per­tumbuhan ekonomi global melam­bat dari 2,6 persen pada 2023 menjadi 2,4 persen pada 2024.

Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) dalam lapo­ran World Economic Outlook (WEO) edisi Oktober 2023 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun 2024 akan melambat 2,9 persen dari sebelumnya 3 persen.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy mengatakan, ada dua faktor utama dari kondisi global yang akan mempengaruhi pereko­nomian Indonesia tahun ini.

Pertama, pelemahan pertum­buhan ekonomi China yang merupakan mitra dagang utama Indonesia. Kedua, tren harga komoditas dari Indonesia yang makin melemah.

Menurutnya, pelemahan ekono­mi China dan harga komoditas yang anjlok ini bakal menggerus sumbangan ekspor terhadap per­tumbuhan ekonomi Indonesia.

“Pemerintah harus segera mengantisipasi pelemahan eksternal ini agar dampaknya ke perekonomian Indonesia tidak besar,” kata Yusuf kepada Rakyat Merdeka, Jumat (19/1/2024).

Salah satu antisipasi yang bisa dikerjakan Pemerintah, yakni menarik investasi sebesar-besarnya masuk ke Indonesia.

Yusuf melihat, tahun 2024 pertumbuhan investasi Indone­sia masih relatif stabil, didukung oleh investasi di sektor hilirisasi pertambangan yang masih bisa diandalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Kata dia, investasi yang masuk diharapkan dapat menahan per­lambatan yang mungkin terjadi pada belanja modal Pemerintah dan swasta di sektor yang ter­pengaruh oleh dinamika ekono­mi global.

Namun begitu, dia memasti­kan faktor internal dari dalam negeri masih akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional pada 2024.

Yusuf mengatakan, konsum­si rumah tangga diperkirakan masih relatif stabil tahun ini, meski tetap berpeluang melemah secara marginal.

Sementara, pengeluaran terkait kontestasi politik, termasuk Pemilihan Presiden (Pilpres), Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), diyakini akan meningkat tahun ini. Hal itu mem­berikan dampak positif terhadap konsumsi domestik.

Selain itu, tingkat inflasi yang diperkirakan berada pada rentang 2 persen sampai 3 persen juga tidak akan menahan laju konsumsi. Kecuali terjadi lon­jakan inflasi pada komponen volatile food.

“Dampak beberapa insentif fiskal Pemerintah dan pening­katan anggaran bantuan sosial (bansos) juga akan menyumbang pertumbuhan konsumsi. Ini jadi salah satu penyeimbang pele­mahan ekonomi global tahun 2024,” jelas Yusuf.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ah­mad mengatakan, perlambatan ekonomi global menjadi faktor utama yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi Indone­sia tahun ini.

“Yang paling mempengaruhi adalah melemahnya permintaan ekspor dari mitra dagang utama, seperti dari China, Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan,” kata Tauhid kepada Rakyat Merdeka.

Sementara, faktor domestik yang bisa menghambat pertum­buhan ekonomi Indonesia tahun 2024, yakni daya beli masyarakat yang makin melemah.

Kata dia, meski Pemerintah menyiapkan bantuan sosial bagi masyarakat bawah, tetapi nilai bansos yang diberikan tidak cukup untuk meningkatkan daya beli.

“Bansos yang diterima hanya cukup dipakai masyarakat untuk bertahan dari kenaikan harga yang bersifat volatile food,” ujar Tauhid.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Har­tarto mengatakan, untuk men­gatasi perlambatan ekspor yang bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, Pemerintah telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pening­katan Ekspor Nasional.

Tugas dari Satgas ini, yakni menajamkan sejumlah strategi peningkatan ekspor, baik melalui peningkatan daya saing produk ekspor, diplomasi, promosi per­dagangan, dan utilisasi kerja sama internasional, kemudahan perizinan dan fasilitas perdagan­gan, peningkatan akses pembi­ayaan untuk ekspor, serta inte­grasi ekosistem ekspor nasional untuk produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Pertumbuhan ekonomi juga akan terus dijaga untuk tetap berkualitas, inklusif dan berkelanjutan,” ujar Airlangga di Jakarta, Kamis (18/1/2024).

Hal ini juga dilakukan dalam rangka memastikan ketahanan ekonomi jangka menengah-panjang melalui beberapa ke­bijakan prioritas yang telah dan akan terus didorong.

Ketua Umum Partai Golkar itu mengatakan, Pemerintah juga melakukan diversifikasi produk ekspor agar tidak hanya dalam bentuk komoditas melainkan juga produk manufaktur.

Ekspor tidak hanya mengan­dalkan komoditas primer seperti batu bara, kelapa sawit, besi, baja. Namun juga barang-barang manu­faktur seperti kendaraan bermotor dan peralatan elektronik.

Hilirisasi menjadi salah satu kunci percepatan sektor industri dan ekspor tersebut. Untuk itu, Pemerintah fokus pada pen­ciptaan nilai tambah pada ko­moditas sumber daya alam seperti bauksit, timah dan nikel.

“Untuk makin menggerakkan roda perekonomian, Pemerintah tidak hanya memacu kinerja ekspor, juga menciptakan lapangan pekerjaan dan menjaga resiliensi perekonomian,” pungkas Air­langga.https://sayurkole.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*